Jangan pernah menjaminkan…

Jangan pernah menjaminkan rasa pada waktu. Mereka punya masa kadaluarsanya.

Iklan

Jangan pernah menjaminkan rasa pada waktu. Mereka punya masa kadaluarsanya.

Bukan bios, teknos, dan logos.

 

Besok adalah senin. Selalu ada enggan dalam tiap minggu malam. Kembali dalam ritme keterburu-buruan. Itulah senin pagi. Itulah Jakarta. Tapi tulisan ini bukan untuk mencibir apa yang rutin terjadi di senin pagi. Saya cuma ingin mengingat senin sore lalu saya sedang duduk di dalam kelas. Bangku terisi penuh. Jatah saya di belakang, padahal saya tidak suka duduk dibelakang dalam tiap perkuliahan.

Susah fokus. Banyak godaan. Karena keterpaksaan saya usaha maksimal menyimak apa yang disampaikan dosen saya satu ini. Dosen ini spesial. Saya selalu suka batik yang beliau pakai tiap mengajar. Motifnya selalu kelihatan tidak norak. Setidaknya, bisa menyulap penampilannya dari 8 jadi 9. Lumayan toh valuenya. Gaya bicaranya selalu enak. Ada yang pernah bilang kalau ada 2 tipe dosen, yang pertama itu dosen yang transfering knowledge dan yang kedua adalah dosen yang transfering understanding. Nah, Bapak yang ini punya keduanya. Lanjutkan membaca “Bukan bios, teknos, dan logos.”

Karimun Jawa. What a bla bla bla (isi sendiri) trip :D

Bagian 1

Bagian paling menyenangkan sekaligus menyebalkan adalah pulang sehabis berlibur. Saya suka karena saya akan punya banyak cerita yang saya bisa tulis. Saya tidak menyukainya karena pada akhirnya saya sadar saya adalah manusia setengah dewasa. Ada yang namanya tanggung jawab juga disebut tuntutan. Keharusan yang saya bayar untuk mencicil masa depan. Liburan saya bukan sekedar liburan indie lagi kemarin. Girl over – days out. Sekarang saya sudah berhasil memprovokatori dua sahabat karib saya. Prospeknya mereka sudah pasti akan menjadi teman tak tau malu untuk trip-trip saya selanjutnya.

Saya berangkat duluan waktu itu untuk bersilahturahmi. Semarang. Tidak pernah akan saya akan bosan. Saya selalu menabung rindu untuk kota itu. Rindu diingat kemudian dilupa kembali oleh eyang putri. Pikunnya eyang itulah yang buat saya jadi kangen semarang. Sayangnya sudah tidak bisa lagi sekarang. April lalu sudah waktunya eyang memang pulang. Jadi ya memang prioritas pertama saya adalah adalah untuk tilik kubur eyang putri dan eyang kakung. Ada satu ritual yang akan saya lakukan sehabis datang ke makam eyang. Kebiasaan yang selalu ibu saya dulu lakukan. Tak sadar diturunkan. Makan soto kudus. Iya. Makan soto kudus di pasar depan makam. Murah, enak dan akan selalu ada rasa kehadiran seorang ibu yang tidak akan pernah bisa digantikan. Saya anggap ritual itu adalah terapi kangen ibu. hahahaha 2 hari 1 malam di Semarang tidak saya habiskan untuk ke tempat-tempat khusus. Yaa sesuai wejangan bapak setidaknya saya harus nongol sebentar, pamer kabar ke semua kerabat di semarang. Saya habiskan seharian untuk sekedar kunjungan singkat itu. Lanjutkan membaca “Karimun Jawa. What a bla bla bla (isi sendiri) trip :D”