sehari jadi madre

 

Membayar seratus ribu untuk 4 loyang cake dan sepotong kebahagiaan. Iya. Begitu gambarannya. Sekitar seminggu yang lalu saya dan keempat teman saya sekedar cuci otak ikutan kursus singkat bikin cake. Modalnya super minim cukup voucher dari lakupon,com yang dipesen dari bulan januari. Kita memang sengaja niat banget ikut semacam acara seperti ini untuk belajar bikin kue. Demam madre belum bertelur di bioskop tapi rempongnya duluan. Tau ‘madre’kah? Madre sebenarnya berarti ibu. Iya. Ibu roti. hmm. eyangnya roti. Uyutnya roti. Fermentasinya mbah ragi.Reaktannya bioteknologi. Duh. -.-

Madre ini jadi sebuah jadi judul film yang diangkat dari sebuah novelet karya ibu kondang Dee. Saya memang pernah baca novelet ini. Ceritanya emang seru tapi entah kenapa saya enggak akan berharap banyak di filmnya nanti terlepas ada si aa vinonya. Iya. perbedaan fantasi baca dan nonton. Dari madre saya sekedar suka dari segi cerita yang ringan tapi menyentuh. Ahhh. Saya memang terlalu gampang jatuh cinta dengan kesederhanaan cerita yang sederhana. Dibalik inspirasi novelet itu, saya memang lagi suka masak lho belakangan ini. Kelas masakan saya bukan cake-cake unyu sih, tapi masakan kelas mbok-mbok dapur aseli indonesia. Ada 2 alesannya, yang pertama saya lebih suka makanan gurih. Selain karena enggak mau terlalu khilaf konsumsi gula, alesan keduanya karna cake-cake unyu itu terlalu cantik buat dimakan. Bagusnya sih dipajang di bupet, kasih lampu, trus ditagline Rp. ……. 🙂 sama aja bodong yak. Lanjutkan membaca “sehari jadi madre”