Pekerjaan Ideal. Perjalanan dan Pencariannya.

 

Pernah ada prolog suatu buku yang saya baca bunyinya seperti ini, “kalau kamu mau berangkat kerja dan serasa seperti mau masuk sumur, tenang saja kamu ga sendirian kok”. Antara lucu dan ironis, saya sendiri memang mengalaminya bahkan setelah sekian lama bekerja. Malah sejak umur 18 tahun seperlulusan sekolah kejuruan dan artinya sekarang sudah menginjak tahun ke 7 saya pernah dan masih bekerja. Idealnya setelah dapat kesempatan bekerja sudah lumayan lama seharusnya saya sudah bisa mendefinisikan beberapa hal yang sering orang lain cari juga antara lain apa sih pekerjaan ideal menurut saya? Sudahkah saya menikmatinya? Sudahkah saya bisa 100% menerima segala konsekuensi dari tiap pekerjaan yang nasib tentukan untuk saya? Sudahkah saya sering bersyukur? Sudahkah saya merasa benar-benar passionate dan bahagia?

Baiklah, mari kita ulas dan mulai menganalisa perjalanan hampir 7 tahun saya mengarungi up and down dunia persilatan. Sebelum akhirnya saya (pura-pura) bijak dan idealis mengdefinisikan kelima hal diatas.

Pekerjaan pertama saya adalah di bidang pelayanan, saat itu saya sedikit tidak yakin dengan kemampuan diri saya sendiri, apa iya anak kecil udah harus kerja? :p Berbekal nasib dan memang realitas yang harus dihadapi yasudahlah saya pasrahkan saja semuanya. Saat itu, pekerjaan saya adalah sebagai seorang Assisten Apoteker (tau kan jenis pekerjaan ini?). Singkatnya ‘mbak-mbak apotek’, saat itu saya bertugas di sebuah rumah sakit swasta. Jam kerja saya saat itu mengharuskan mengikuti jadwal shift. Ada 3 shift yaitu pagi, siang dan malam. Kalau ditanya shift mana yang paling berat? jawaban saya adalah shift malam. Simple saja, disaat semua orang terlelap tidur, saya masih harus bebenah obat-obatan, nyiapin perlengkapan pasca operasi pasien, nyiapin resep rawat inap dan hampir tiap jam di tengah malam mesti melayani pasien Unit Gawat Darurat. Belum lagi terkadang diganggu juga sama yang tidak nampak. Duh gusti.

Hampir 3 tahun saya bekerja di rumah sakit itu, kemudian karena alasan personal dan memang saat itu akan fokus di tugas akhir saya putuskan untuk beralih pekerjaan lain dan lagi-lagi memang masih diberikan rezeki di pelayanan lagi. Di sebuah apotek & klinik dokter. Karena porsi pekerjaannya lebih ringan dan karena jarak dari rumah, kampus, tempat kerja masih masuk akal makanya masih saya terima.

Selepas lulus sarjana, tidak lama kemudian saya mencoba menapaki di luar bidang pelayanan. Sederhana saja, saya ini tipe orang yang sangat amat mudah bosan. Apalagi semenjak memutuskan belum melanjuti sekolah lagi, entah pasca sarjana atau professi nanti, saya jadi sulit fokus pada satu tujuan, terlalu banyak liku-liku yang memaksa kita untuk berhenti sementara, diam ditempat atau bahkan kemudian memaksa berlari. *Halahhhh* Saat itu saya diterima sebagai salah satu staff regulatory atau registrasi di sebuah industri farmasi, tugasnya adalah menyiapkan dokumentasi untuk pendaftaran obat jadi, urus dokumen importasi bahan baku, urus dokumentasi untuk lelang pemerintahan, dan berbagai perintilan pekerjaan lainnya. Pekerjaan ini mengharuskan saya mobile dan tidak melulu 8 jam di balik bilik kantor saja. Karena berbagai macam urusan yang mesti dikerjakan dan memaksa berurusan dengan birokrasi. Saya lumayan suka walaupun saya tidak suka harus menunggu antrian bahkan sampai berjam-jam hanya untuk konsul atau bertemu dengan evaluator. Belum lama saya disana, saya akhirnya pindah lagi ke tempat pekerjaan yang baru. Masih dalam satu bidang yang ada keterkaitannya, dan lagi-lagi ada beberapa hal yang tidak bisa saya accept, utamanya dan paling krusial adalah ‘kenyamanan’ akhirnya saya pun hengkang pekerjaan lagi. Iya. Lagi dan lagi.

Tidak lama setelah itu, mungkin hanya berjarak 2 minggu setelah out dari kantor lama, saya diterimalah di perusahaan yang sampai saat ini saya ‘membetahkan’ diri. Masih dalam ruang lingkup dunia industri, tapi bukan farmasi melainkan industri kosmetik. Saya ditempatkan di satu divisi yang juga semi-mobile, saya harus banyak bertemu dengan pihak external, membantu mengkomunikasikan berbagai hal dengan pihak internal dan mensupport beberapa project client sampai waktunya launching. Intinya saya sekarang lagi belajar di tahap manajerial bukan lagi di tahap technical.

Merujuk dari kelima pengalaman yang pernah dan saat ini saya kerjakan, saya akan mencoba sedikit jujur untuk mendefiniskan kelima hal yang masih jadi misteri di atas. Yuk yuk yuk. Cekidot

Apa sih pekerjaan ideal menurut saya?

Ideal di mata saya adalah dimana saya mengerjakan hal-hal yang 100% saya sukai. Selain itu, saya tidak perlu terikat waktu dan tempat untuk bekerja. Saya bisa bekerja dimana saja, kapan saja dan bebas mengatur waktu tanpa perlu menyiksa diri tiap pagi menghadapi kemacetan Ibu Kota.

Sudahkah saya menikmatinya?

Untuk saat ini sih masih 50 : 50, di satu sisi karena saya menemukan sedikit kenyamanan di industri ini, saya banyak belajar kosmetik dari segi industrial dan dibalik itu semua sebenarnya saya punya misi khusus. Sayangnya belum bisa dibocorin sekarang lah yaa… :p Namun disisi lain, saya rasa divisi saya tidak akan membuat saya berkembang lebih jauh lah yaa…. 

Sudahkah saya bisa 100% menerima segala konsekuensi dari tiap pekerjaan yang nasib tentukan untuk saya?

hhhhh… belum

Sudahkah saya sering bersyukur?

Alhamdulilah, masih terus belajar untuk selalu bersyukur. Toh, sebanyak apapun harta kalau tidak pernah bersyukur akan selalu kurang kan? *tumben bener*

Sudahkah saya merasa benar-benar passionate dan bahagia?

Benar-benar passionate ini lah yang sedang saya cari. Untuk menjadi bahagia pun akan selalu berbanding lurus dengan perasaan passionate. Tapi bahagia pun sebenarnya bisa 100% kita dapat kalau tidak ada lagi ketakutan secara finansial. Saya sih tidak munafik, salary adalah salah satu faktor besar buat saya dalam menerima tiap pekerjaan. Dibalik belum terbebasnya saya dari kekhawatiran salary yang ‘kok abis mulu’ atau ‘kok segininya nyari uang’ Yaaa.. balik lagi ke point no 4. 

Dibalik 5 pertanyaan diatas sebenarnya masih banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya yang bisa saya pertanyakan pada diri sendiri menuju sampai didapatkannya apa itu pekerjaan ideal. Mungkin kelima pertanyaan juga bisa dijadikan pertanyaan standard buat semua yang sedang mencari-cari. Yang paling mendasar adalah ‘being honest’ dan ‘self acceptance’ dalam tiap menjawab semua pertanyaan tersebut.

By the way, terlepas saya nantinya sudah menemukan pekerjaan ideal atau belum, mungkin beberapa tahun lagi menjadi seorang ibu adalah pekerjaan yang paling sangat ideal. *eaaa ga fokus*

Fighting !!!

Let’s lead our own destiny.

Iklan

Penulis: ulhia.putri

colour my life with the chaos of trouble

6 thoughts on “Pekerjaan Ideal. Perjalanan dan Pencariannya.”

  1. Iya namanya setiap pekerjaan pasti ada plus dan minusnya ya Mbak. Tinggal di kitanya saja apakah bisa menerima itu dan tetap bersyukur karenanya. Ya kalau ada kesempatan yang lebih baik, kenapa tidak? Manusia adalah makhluk yang dasarnya tidak pernah puas, kalau ada kesempatan untuk masa depan yang lebih baik, adalah bentuk usaha maksimal untuk mengambilnya :hehe. Semangat terus!

  2. Hal yang (mungkin) sulit untuk dinikmati adalah “realita”, karena ideal itu mulanya adalah “imajinasi” (mungkin juga). Dan bersyukur adalah sikap untuk men-treatment diri agar tercapai kenikmatan dan kepuasan batin dalam bekerja, apapun lah.

    Btw, pekerjaan ideal wanita ya menjadi istri yang “mampu” mengurus anak dan suami. 😅 *mainstream*

  3. jadi inget kisah saya. 2 tahun lalu saya pindah kerja dan gag mau banget tinggal di jakarta, tetapi tuhan bercerita lain, pekerjaan saya penempatan di jakarta. dan ladalah kok tahun pertama gag nyaman, kudu nangis, suntuk jadi satu.. la mau gimana dulu orang lapangan sekarang jadi pegawai kantor.”sempat terfikir bayar pinalti sampe 50juta…

    tetapi seiring berjalannya waktu saya mulai sadar kata “tuhan memberi apa yang kita butuhkan bukan yang kita ingginkan”

    dan setelah beberapa lama, malah dipekerjaaan ini saya bisa bebas menggeluti ide dan hobi saya. menulis, ngeblog dan beljar foto.

    sekarang saya belajar bersyukur lagi agar bisa menemukan cerita lain dari kebaikan Tuhan

  4. Fokus kok. Menurut saya jadi ibu itu juga ‘pekerjaan’ (cuma bisa menduga, saya bukan ibu-ibu). By the way, living without financial worries? Gee, that’s scary. Wrinkling—one tiny curve, at a time. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s