Simply happines. A momento.

 

Dua jam menuju hari jumat. Hari sakral bagi pekerja, hari yang paling ditunggu dari setiap minggunya.  Meringkuk diatas kasur, guling ke kanan kemudian ke kiri, serba salah dan sesekali meringis atas hadiah yang diberikan setiap bulannya sebagai seorang perempuan. Dan diantara ritual malam harinya, si perempuan mencoba bebersih gallery di smartphonenya. Ritual bebersih yang pada akhirnya membawanya melihat sudah begitu banyak moment yang pernah ada,  pernah singgah, pernah berbekas, dan pernah terlupakan. Lanjutkan membaca “Simply happines. A momento.”

Iklan

Kutipan Basi

Seperti enzim, situs aktifku adalah kamu.

Senyum kamu adalah inhibisi semangatku.

Doamu jadi substratku.

 

 

Menemukan seburit kutipan yang pernah terlampir di draft dan tidak pernah terpublish.

Seperti sudah merangkai kata tapi tidak pernah terucap.

Seperti sudah dipertemukan tapi tidak pernah ditakdirkan.

Seperti sudah berekspektasi tapi Tuhan memberikan APA yang kita butuhkan bukan APA yang kita harapkan.

Seperti sudah gambar alis tapi kemudian ndak jadi pergi.

:'(😠😒

Pfffttthhh.

Tentang Princez Yang Harus Rajin Bercermin

Ini lucu. 🙊🙊🙊🙊

Rizki Firmansyah

Tersebutlah seorang Princez yang bekerja di sebuah kampeni dimana jam makan siangnya lebih lama dari jam bekerja. Kerjanya setiap hari adalah datang siang, duduk, ngaca dan dandan untuk kemudian belanja online. Begitu terus dan seterusnya. Gak jelas apa yang dikerjain dan sedang mengerjakan apa. Ketika ada request kerjaan muka di tekuk, pasang wajah masam dan gak seneng. Ketika ada masalah dalam kerjaan, Princez berada dalam garda terdepan untuk ber-drama ria seolah-olah sedang dihadapkan pada persoalan yang sangat sangat sangat super duper berat dan gak bisa di selesein. Mau negur? Galakkan dia dari orang-orang.

Sampai pada akhirnya Princez tersebut bicara tentang profesionalisme, bicara tentang tata cara kerja yang ideal sembari menyalahkan sistem, menyalahkan orang yang bersebrangan, menyalahkan orang sekitarnya. Pokoknya semua orang salah dan yang bener adalah Princez. Oh Princez, ini bukan negeri dongeng dimana hanya Princez yang bener dan ini bukan pula panggung sandiwara jadi gak usah drama. Oh iya satu lagi, apakah Princez masih…

Lihat pos aslinya 4 kata lagi

Review dan Analisa Mizon Snail Cream [Skincare Korea]

 

Mulai dari drama, makanan sampai akhirnya sekarang saya ikut terbawa arus mencoba skincare korea. Bukan tanpa alasan lho saya penasaran sama produk-produk skincare korea yang lagi booming. Kurang lebih hampir setahun yang lalu, entah kenapa kulit wajah saya jadi sensitif dan jerawatan. Padahal sebelumnya, jenis kulit saya itu benar-benar jenis ‘kulit badak’. Perawatannya enggak neko-neko, cukup acne facial foam ponds, pelembab dan bedak baby. Murah meriah, enteng kantong. Walaupun, komedo masih tetap setia, tapi berhubung masih rajin eksekusi dengan facial di salon, kokomedoan masih bisa diusir.

Namun, seperti cewek-cewek yang ‘benar-benar’ cewek saya pun memendam hasrat pengen punya wajah kinclong. Berangkatlah saya kala itu untuk perawatan di natasha skincare. How? Big No. Muka sih ga jerawatan tapi kok kusamnnya masih. Setelah itu, atas rekomendasi teman saya perawatan ke Dr.DL Skincare. Tempat skincare ini emang ga terlalu terkenal macam Erha, tapi banyak pasiennya yang berhasil dan cabang skincare ini juga sudah cukup banyak dari tanggerang, jakarta timur, jakarta utara, sampai bekasi. Iyak. Saya pun hanyut mau coba-coba. Ingat betul dulu pertama kali datang konsul ke tempat itu, direkomendasiin untuk chemical peeling sampai microdermabrasi, pake cream pagi, cream malam, cream jerawat dan facial foam. Berapa biayanya? Yak. Memang tidak semahal erha clinic, tapi tetap pernah setengah juta pernah keluar buat sekali perawatan. *nangis* Lanjutkan membaca “Review dan Analisa Mizon Snail Cream [Skincare Korea]”

new year late post for early 2014

Sebelumnya mau ucapin Happy New Year dan Selamat Maulid Nabi Muhammad SAW. 🙂

Jadi ceritanya ini adalah tulisan saya pertama di tahun baru (rasa lama) ini. Iya. Sudah hampir berjuta masehi saya gak pernah mampir ke sini, *bersihin sarang laba-laba*. Nengok pun engga, apalagi duduk-duduk sambil ngopi disini. Tidak. Saya tidak pernah lupa tapi cuma pura-pura lupa kalo saya (pernah) nulis. Ini mau ngetik pun jadi agak bingung, merangkai kata yang pas malah jadi kaku. Bermaksud ingin agak-agak dramatis kok malah terkesan lebay. hahahha

Baiklah, seperti tulisan-tulisan orang lain saya mau flash back sedikit gimana dan bagaimana kehidupan saya tahun lalu. Terlalu banyak drama, leha-leha *ngikik* dan target yang boro-boro bisa tepat waktu *nangis*.

Drama.

Bukan kita (saya+dia) namanya, bila benar-benar mulus tanpa beda persepsi. Masalah seupil jadi drama, masalah sedaki jadi drama, masalah seketombe jadi drama. Bukan. Bukan karena ego, bukan pula jarak tapi ya karena itu tadi terlalu banyak drama diantara kita. Drama yang syukurnya tidak perlu kami pertontonkan di timeline twitter, di path atau media sosial lainnya. hahahaha. Cukup dan cukup. Drama ini jadi konsumsi kami berdua sebagai penyeimbang energi Yin dan Yang dalam hubungan ini.

Leha-leha.

Entah asal usul kata ini dari mana. 2 kata itu bisa jadi gambaran tepat di awal tahun saya tahun kemarin. Hidup awal tahun lalu, ada target tapi kok ga ngoyo kaya sebelum-sebelumnya. Waktu berasa bahagia hanya untuk keluarga dan teman-teman. Rasanya kok seperti titik stabil semacam ibu rumah tangga beranak 2 yang ga neko dan cuma fokus sama anak suami,wkwkkwk. Titik stabil yang berakhir penumpukan rasa ketidakdisplinan plus amburadulnya manajemen uang dan waktu. 😦

Target yang boro-boro bisa tepat waktu *nangis*

Biar hidup leha-leha harus tetap punya target donk. Iyalah. Mesti. Kudu. Wajib. Tapi apa mau dikata tiap usaha dan doa tidak sesuai dengan target rupanya. Satu-satunya jalan tersisa ya cuma mengamini dengan ikhlas semua target yang belum sesuai kehendak itu. Berpikir positif. Berprasangka baik. Kecewa ditambah air mata wajar itu manusiawi. Tapi selama selalu ada tempat bersandar buat mengeluh. Enjoy aja sih 😀

catatan harian ga penting, harap maklum, jari masih kaku *kretekin*

sehari jadi madre

 

Membayar seratus ribu untuk 4 loyang cake dan sepotong kebahagiaan. Iya. Begitu gambarannya. Sekitar seminggu yang lalu saya dan keempat teman saya sekedar cuci otak ikutan kursus singkat bikin cake. Modalnya super minim cukup voucher dari lakupon,com yang dipesen dari bulan januari. Kita memang sengaja niat banget ikut semacam acara seperti ini untuk belajar bikin kue. Demam madre belum bertelur di bioskop tapi rempongnya duluan. Tau ‘madre’kah? Madre sebenarnya berarti ibu. Iya. Ibu roti. hmm. eyangnya roti. Uyutnya roti. Fermentasinya mbah ragi.Reaktannya bioteknologi. Duh. -.-

Madre ini jadi sebuah jadi judul film yang diangkat dari sebuah novelet karya ibu kondang Dee. Saya memang pernah baca novelet ini. Ceritanya emang seru tapi entah kenapa saya enggak akan berharap banyak di filmnya nanti terlepas ada si aa vinonya. Iya. perbedaan fantasi baca dan nonton. Dari madre saya sekedar suka dari segi cerita yang ringan tapi menyentuh. Ahhh. Saya memang terlalu gampang jatuh cinta dengan kesederhanaan cerita yang sederhana. Dibalik inspirasi novelet itu, saya memang lagi suka masak lho belakangan ini. Kelas masakan saya bukan cake-cake unyu sih, tapi masakan kelas mbok-mbok dapur aseli indonesia. Ada 2 alesannya, yang pertama saya lebih suka makanan gurih. Selain karena enggak mau terlalu khilaf konsumsi gula, alesan keduanya karna cake-cake unyu itu terlalu cantik buat dimakan. Bagusnya sih dipajang di bupet, kasih lampu, trus ditagline Rp. ……. 🙂 sama aja bodong yak. Lanjutkan membaca “sehari jadi madre”